Menyusuri Sejarah Uang Nusantara


Di balik alat tukar barang yang kita gunakan setiap hari, terkandung nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Siapa yang tahu jika suatu saat nanti uang yang kita pakai bisa menjadi barang yang sulit untuk dicari. Karenanya pameran uang ini memberikan edukasi agar kita tahu bahwa alat tukar barang yang kita pakai mempunyai unsur warisan negeri yang patut dihargai.
Langkah pertama pengunjung memasuki ruang pameran disambut dengan beberapa koleksi uang karya Mujirun yang berada tepat di sisi kiri pintu masuk terpampang. Ia merupakan salah satu seniman pelukis gambar uang menggunakan teknik engraving. Engreving adalah salah satu teknik dalam percetakan yang membutuhkan ketelitian tinggi untuk menghasilkan garis-garis yang padu dan detail.
Tak jauh dari karya Mujirun tersebut, terpajang penghargaan yang diterimanya sebagai pelukis gambar uang terbaik. Beberapa jengkal kaki melangkah, gambar peta penyebaran uang dari luar negeri yang masuk ke Nusantara sejak zaman penjajahan terbentang di dinding. Tepat di samping peta tersebut, terdapat tiga bingkai kesenian bentuk lipat uang sebagai mahar pernikahan.
Beranjak dari sisi kiri galeri, di sebelah kanan pintu masuk galeri pengunjung disuguhi berbagai koleksi uang langka yang menjadi buruan para kolektor dunia. Dua langkah kaki menapak, terdapat koleksi uang kertas emisi penari jawa yang beredar sejak 1933 sampai 1939. Uang yang tergolong langka tersebut dinilai unik oleh para kolektor, karena memiliki desain yang rumit. Di sudut kiri ruangan terdapat pula uang gepok berupa kertas maupun koin.
Tak hanya itu, terdapat pula layar proyektor yang tengah memutar video dokumeter tentang perkembangan uang dari masa ke masa. Pada sudut kanan ruangan, pengunjung dapat menyaksikan beberapa koleksi uang salah cetak. Kesalahan cetak pada uang ini menunjukan sisi uang yang cacat, seperti nominal yang hilang, kesalahan pemotongan, dan kesalahan gambar.
Di tengah-tengah ruangan, terdapat surat kabar berbingkai tentang peredaran uang pertama kali di Indonesia. Bingkai yang berdiri kokoh tersebut dikelilingi oleh kotak berwarna merah berisi berbagai alat tukar menukar pada zaman kerajaan Hindu Budha. Salah satunya Gebong Upeti dari kerajaan Siyam pada abad ke- 15 Masehi. Selain itu, terdapat juga koleksi uang Dirham milik Sultan Muhammad dari Kerajaan Samudra Pasai.
Tak hanya koleksi uang Indonesia saja yang ditampilkan dalam pameran yang berlangsung pada 2-3 Mei 2017 lalu itu. Tetapi juga koleksi uang manca negara, seperti Jepang, Swiss, dan Jerman. Pameran ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Jurusan Marketing Komunikasi semester satu Universitas Mercu Buana sebagai tugas mata kuliah Manajemen Event.
Menurut Ketua Pelaksana Pameran, Wina Sekar mengatakan  pameran ini  bertujuan untuk mengedukasi mahasiswa. “Uang itu memiliki sejarah juga sebagai warisan budaya.” Ungkapnya saat ditemui di ruang Workshop Pameran Uang Kuno-Kini pada Jumat (2/6).
Salah satu pengunjung, Asti Aulia Rahmi, mengaku tertarik dengan pameran yang digelar. Menurutnya, pameran ini sangat mengedukasi dirinya “Bagus untuk pengetahuan anak zaman sekarang, dan menambah wawasan untuk mahasiswa. Kita jadi tahu uang pada zaman dahulu.” Ucapnya pada Jumat (02/06).

Komentar