![]() |
| ilustrasi by : google |
By : Neena
Sejak bangun tidur tadi,
Arin merasa sangat bahagia. Bagaimana tidak? Hari ini dia tepat berusia 26, dan
tepat seminggu lagi pernikahannya akan berlangsung.
"Duh.. ayo sarapan
dulu, jangan senyum-senyum sendiri, lagi senang ya?" Tanya Linda -ibu
arin- sambil menyiapkan piring dan
sendok makan untuk keluarganya.
"Habis ini aku mau
pergi sama Wahyu, mama mau titip apa?" Ucapnya santai sambil melahap
bakwan. Raut wajah Linda dan Robin -ayah arin- seketika berubah, ekspresinya
antara sedih dan marah. Arin tak suka menatapnya.
"Lebih baik kamu
dirumah saja" ucap Robin seketika. Arin menghentikan aktivitas makannya.
Linda hanya menundukkan wajahnya tak berani juga melawan suaminya.
"Loh? Kenapa yah? Ayah
masih tak suka dengan Wahyu? Seminggu lagi aku dan Wahyu akan menikah ayah..
kenapa ayah masih saja tak mengerti!" Arin mengambil tas dan beranjak dari
meja makan. Dia juga mengambil kunci motor dan mulai mengendarainya. Dalam
perjalanan, air matanya mulai mengalir.
Wahyu adalah tunangan Arin,
mereka berteman dari semasa kuliah, mereka juga merangkai mimpi bersama hingga
akhirnya kini akan menikah. Sejak awal Arin mengenalkannya pada Robin,
Robin kurang setuju padanya, alasannya
sepele, karena jarak jauh daerah asal mereka. Wajar saja jauh, Arin di Jakarta
sedangkan Wahyu dari Palembang. Tapi jarak itu bukan masalah sekarang, karena
Wahyu sedang dalam proses membangun rumah di daerah pinggir Jakarta dan jarak
mereka tak akan terlampau jauh lagi. Robin juga telah merestui nya. Tapi Arin
tak tahu kenapa hari ini ayahnya sepertinya kembali tak merestui hubungannya
lagi.
****
Dalam perjalanan menuju
tempat yang telah dijanjikan sebelumnya, Arin terus tak habis pikir mengapa
ayahnya bersikap demikian. Entahlah, Arin tak ingin terus memikirkannya, dia
takut akan berdampak nanti pada hari pernikahannya.
Arin sampai di resto yang
telah di reservasi sebelumnya, dia melihat sekeliling, tak ada Wahyu. Mungkin
dia belum sampai, pikirnya. Arin duduk dan memikirkan betapa beruntungnya ia
memiliki Wahyu, karena Wahyu dulu bisa dibilang Arjuna di kalangan gadis
kampus. Tak hentinya Arin tersenyum saat memikirkan Wahyu.
Tak lama kemudian, Wahyu
datang melambaikan tangannya. Arin pun menyambutnya.
"Udah nunggu lama
ya?" Ujar Wahyu sambil membenahi letak kursinya.
"Baru ko, gimana? Aku
pesan makanannya ya?" Arin melambai kearah pelayan yang paling dekat
dengannya.
"Mau pesan apa
mba?"
"Hmm.. kamu mau makan
apa?" Tanya Arin pada Wahyu.
"Samain kaya kamu
aja" ujar Wahyu. Pelayan yang melihat Arin merasa keheranan dan hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku pesan 2 tenderloin
steak, minumnya 2 ocean blue ya". Pelayan itu mencatat apa yang dipesan
Arin dan kembali ke dapur.
"Cantik-cantik makannya
banyak banget" gumam sang pelayan.
****
"Arin.." panggil
Wahyu.
"Hmmm ada apa?" Tanya
Arin menatap Wahyu.
"Selamat ulang tahun
ya, semoga kamu sehat selalu. Apa harapan kamu ditahun ini?"
"Makasih Wahyu..
harapan aku, aku ingin di tahun ini, di tahun-tahun berikutnya, kamu selalu ada
di sisiku, sampai kita jadi kakek-nenek kelak". Ujar Arin tersenyum penuh
arti
"Amiinn"
Mereka terus berbincang
sampai pramusaji kembali membawa pesanan mereka. Mereka menghabiskan makanan
dengan penuh gelak tawa dan candaan seperti yang mereka lakukan di hari-hari
sebelumnya, seperti yang dulu-dulu.
****
Kini Wahyu dan Arin berjalan
santai di taman samping resto. Sama seperti ramalan cuaca yang dilihat Arin
sebelumnya, langit hari ini cerah, angin juga tak begitu kencang, banyak
pasangan lain yang sedang berjalan-jalan di taman juga. Ia sangat menikmati saat-saat
ketika sedang bersama Wahyu seperti ini. Mereka berjalan pelan, bergandengan
tangan.
"Arin.. seminggu lagi
kita menikah" ucap Wahyu dengan nada seolah tak percaya.
"Hahaha.. ko kamu
lucu?" Arin tertawa mendengar nada bicara Wahyu.
"Iya, kita memang akan
menikah, undangan sudah tersebar, semua persiapan sudah selesai, lalu?"
Sambungnya. Wahyu tersenyum melihat Arin.
"Aku nggak nyangka loh,
bakal dapat jodoh orang Jakarta,"
"Kenapa emang?"
"Dulu aku hanya melihat
dari tv, Jakarta itu ceweknya cantik-cantik! Eh, aku gak nyangka bakal dapat
satu"
"Mulai deehh" ucap
Arin gemas sambil memukul pelan lengan Wahyu. Wahyu tertawa. Mereka
menghabiskan sepanjang siang dengan memutari taman dan juga danau yang terletak
di dalamnya. Bercanda ria, dan mengenang masa-masa saat mereka pertama bertemu.
Arin benar-benar melupakan masa sulitnya saat ia bersama Wahyu. Namun ada hal
yang Arin herankan dari tadi, kenapa pasangan lain selalu melihatnya dengan
tatapan heran? Apa terlalu keras Arin tertawa hingga pasangan lain merasa
terganggu? Arin terus bertanya-tanya.
"Wahyu, dari tadi kamu
merasa aneh gak si? Kita lagi dilihatin sama orang-orang.. apa aku bikin salah?
Ketawaku terlalu keras ya?" Tanya Arin.
"Udah mau Maghrib,
gimana? Pulang yuk" ajak Wahyu mengalihkan pembicaraan.
"Hmm.. yuk". Arin
pasrah, walau ia agak kecewa, ia ingin lebih lama bersama Wahyu, kenapa waktu
begitu cepat berlalu? Pikirnya.
Arin dibonceng Wahyu dengan
motornya. Wahyu sekalian mengantar Arin pulang, dia tak membawa kendaraan
dengan alasan malas, ingin naik angkutan katanya. Dalam perjalanan, Arin terus
bercerita tentang hidupnya. Wahyu hanya mendengarkan sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, ko
kamu lewat jalan yang sepi si? Takut tau" ujar Arin
"Ini kan jam-jam pulang
kerja.. pasti bakal macet, lagi pula aku mau ke suatu tempat dulu" ucap Wahyu
beralasan.
"Kemana??" Ujar
Arin antusias. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, pukul 7, ia akan pulang
kalau sudah jam 9, lagi pula ia masih ingin berlama-lama dengan Wahyu.
Mereka sampai di sebuah
tempat. Sebenarnya sebuah dermaga, tapi ini tempat dimana Wahyu melamar Arin.
Dermaga itu telah dipenuhi lampu warna-warni yang indah. Arin menunjukan
ekspresi wajah bahagia. Tak henti bibirnya mengucap syukur. Mereka berjalan ke
ujung dermaga itu. Wahyu menatap dalam wajah Arin. Arin menatapnya balik.
"Wahyu.. terimakasih
banyak" ujarnya, matanya jadi berkaca-kaca akibat bahagia. Wahyu
menggenggam tangan Arin dan tersenyum.
"Arina Syarifa, aku
ingin hari ini, besok, seterusnya, teruslah tersenyum bahagia seperti
ini". Arin hanya mengangguk
"Arina Syarifa, aku
ingin kamu percaya dimana pun aku berada, mulai saat ini, besok, dan
seterusnya, rasa cintaku selalu sama ke kamu". Arin kini benar-benar
menangis bahagia.
"Arina Syarifa,
terimakasih telah hadir dalam hidupku, mengenalkan aku pada rasa cinta,
bahagia, dan percaya. Aku mencintaimu". Ujar Wahyu lalu menarik Arin dalam
pelukannya. Membelai lembut rambut panjangnya, dan membiarkan Arin terisak di
dadanya.
"Terimakasih banyak
Wahyu.. terimakasih banyak" gumam Arin dalam pelukan Wahyu.
Arin ingin waktu berhenti
untuk beberapa saat ini. Dia bahagia. Sangat bahagia. Ia tak ingin kehilangan
orang yang kini tengah memeluknya, orang yang sangat ia cintai. Wahyu adalah
alasannya saat Arin bahagia, Wahyu juga obatnya saat Arin merasa sedih. Arin
sadar waktu terus berlalu, ia melepaskan pelukan Wahyu, jamnya menunjukan sudah
setengah sembilan.
"Wahyu, aku harus
pulang" ujar Arin sedikit tak rela. Wahyu tersenyum mengerti.
"Baiklah, ayo
pulang".
Dalam perjalanan pulang Arin
dan Wahyu saling diam. Larut pada perasaannya masing-masing.
Sesampainya di depan rumah,
Arin melihat orangtuanya di depan pintu. Ia melihat mata ibunya sedikit sembab,
ayahnya juga. Ia mengalihkan perhatiannya pada Wahyu.
"Wahyu, mungkin mau
minum teh dulu di dalam?" Tanya Arin. Wahyu menggeleng
"Tidak usah, lihat
orangtuamu, mereka kayaknya khawatir nunggu kamu pulang, gih". Arin ragu,
ia seperti tak rela jika Wahyu pulang.
"Ayo pamit dulu ke
mereka" ajak Arin. Wahyu hanya memandang orang tua Arin dari kejauhan dan
tersenyum. Sedangkan orangtua Arin tak menunjukan ekspresi apa-apa. Wahyu
kembali menggenggam tangan Arin. Arin memandangi Wahyu, Wahyu tersenyum.
Menurutnya, ini adalah senyum Wahyu yang termanis.
"Selamat tinggal
Wahyu" ujar Arin pelan. Wahyu mulai melepaskan genggamannya dan berlalu
pergi. Arin berbalik menuju orangtuanya. Entah mengapa ibunya malah terus
menangis. Arin jadi khawatir. Arin mendekat, lalu tanpa aba-aba Linda memeluk
Arin dan tangisnya pecah. Robin ikut memeluk anak dan istrinya. Arin masih tak
mengerti kenapa orang tuanya begini.
"Mama.. ayah... Kenapa?
Ada apa??" Tanya Arin. Namun sesaat kemudian ia tiba-tiba tertampar oleh
kenyataan. Ia luluh, ikut menangis bersama ibu dan ayahnya. Arin tak kuat
menahan tangisnya, seluruh pandangannya pun gelap seketika.
******
Arin adalah seorang gadis
yang cantik. Bukan hanya kata orangtuanya, tapi juga teman-teman nya dan Wahyu,
tunangannya. Ya, seminggu lagi Arin akan menikah, namun kisah tragis ini tak
bisa dihindari, Arin mendapat kabar Wahyu kecelakaan saat hendak menjemputnya.
Tepat juga di hari Arin berulang tahun, dan mereka berencana untuk merayakannya
berdua. Namun takdir berkata lain, Tuhan mengambil Wahyu dari Arin untuk
selamanya. Arin yang sangat terpukul terus menerus menyalahkan dirinya atas
kematian Wahyu. Linda dan Robin tak kalah sedihnya, melihat putri semata
wayangnya mengalami nasib tragis membuat mereka terus sedih dan tak bisa
berbuat apa-apa.
Hingga pada suatu malam,
saat hujan deras dan petir menyambar, Arin berdoa di dalam kesedihannya.
"Tuhan, aku ikhlas
melepas Wahyu, aku rela kau pisahkan aku dengan Wahyu, tapi Tuhan. Izinkan aku,
sehari saja, untuk bersama Wahyu, untuk mengingat senyumnya, untuk kembali
mendengar kata-katanya, untuk terakhir kalinya mengucapkan selamat tinggal
padanya."

Komentar
Posting Komentar